SEJARAH ASAL USUL DESA MOJOPITU KECAMATAN SLAHUNG
SEJARAH ASAL USUL DESA MOJOPITU KECAMATAN SLAHUNG
Jaman dahulu Ponorogo terkenal dengan Reognya, hingga saat ini dan sampai nanti mungkin sebutan itu akan selalu melekat jaya diseluruh jagat raya semesta. Ponorogo tak kalah hebohnya lagi dengan pemuda-pemuda perkasanya yang bisa disebut dengan Warok. Warok bukanlah orang yang jahat, tetapi ia adalah seorang kesatria yang gagah berani, membela kebenaran dan keadilan.Dari jaman Warok inilah asal usul adanya Desa Mojopitu, dan kurang lebih beginilah ceritanya :
Mengembaralah Warok Joyo Astomo bersama dengan muridnya ke arah selatan, saat itu masih banyak pohon- pohon yang lebat dan tiada penghuninya. Setelah berjalan jauh ke selatan ia menemukan tempat singgah untuk dijadikan tempat istirahat. Joyo Astomo melihat banyak sekali pohon- pohon Mojo yang tumbuh lebat dihadapannya, ia mengayunkan senjatanya menebang sebuah pohon Mojo yang ada dihadapannya, setelah sedikit demi sedikit ditebas, akhirnya pohon tersebut tumbang juga. Tapi ia merasa heran mengapa pohon tersebut mengeluarakan bau yang sangat langu. Lama kelamaan bau tersebut semakin menyengat, hingga mereka tak tahan dan meninggalkan tempat tersebut.
Joyo Astomo bersama rombongan melanjutkan perjalanan balik ke utara, hingga akhirnya berhenti didepan sebuah gubuk sederhana. Dalam gubuk tersebut ternyata ada dua orang pemuda yang sedang istirahat dan berkenalanlah Joyo Astomo dengan dua pemuda itu. Hai saudara, bolehkah aku bertanya kepadamu, Siapakah engkau ini sesungguhnya dan dari manakah asal tempat tinggalmu, hingga sampai kesini?. Menjawablah salah satu dari dua pemuda tersebut, aku adalah Raden Wijoyo dan ini adalah sahabatku yang bernama Seto Wijoyo. Kami berasal dari barat sana, Jogjakarta adalah asalku, kami kesini hanyalah mengembara biasa, kami ingin tahu dan membuktikan apa benar disini ada para Warok, karena dari tempatku sudah ramai diperbincangkan. Akhirnya Joyo Astomo bercerita dan menjelaskan apa yang menjadi ganjalan dihati dua pemuda itu dengan sejelas-jelasnya. Mengangguk- angguklah mereka mendengar cerita Joyo Astomo. Setelah lama bercerita kemudian Joyo Astomo bertanya kepada sahabat barunya tersebut, Hai Raden Wijoyo kenapa tinggal di gubug dengan pekarangan yang sangat luas? Raden Wijoyo menjawab, begini Joyo Astomo, Aku bersama sahabatku mau singgah disini apabila mempunyai tempat persinggahan dengan pekarangan yang luas, dan kelak bila nanti ada perkembangan jaman maka tempat persinggahanku ini akan ku beri nama Karangan atau yang saat ini lebih dikenal dengan nama Desa Karangan.
Setelah lama bercengkrama dan saling bercerita, kedua rombongan melanjutkan perjalanan ke arah selatan dimana Joyo Astomo dan muridnya menebang pohon yang berbau langu tadi. Sesampainya ditempat tersebut Joyo Astomo menceritakan kejadian yang dialami bersama muridnya, dan ternyata pohon yang ditebang yang berbau langu adalah pohon Mojo
Tidak terasa malampun mulai beranjak dan merekapun akhirnya beristirahat ditempat tersebut dengan alas seadanya.
Pagipun beranjak, udara terasa segar dan kicau burung-burung mulai bernyanyi menambah indahnya suasana. Merekapun terbangun dari tidurnya dan bergegas mencari air untuk membasuh muka Begitu juga Joyo Astomo kepada muridnya. Dalam perjalanan mereka selalu berbincang bertukar pengalaman tentang kehidupan yang telah dilaluinya. Hai Seto Wijoyo tidakkah engkau mencium bau langu dari pohon ini? Kata Joyo Astomo. Ya, jawab Seto Wijoyo. Akhirnya Seto Wijoyo duduk diatas pohon itu sambil berdo’a meminta kepada Tuhan agar bila bau ini bisa dihilangkan maka berubahlah baunya menjadi harum. Lama ia berdo’a dan akhirnya keanehan terjadi, tiba-tiba bau langu itu berubah menjadi harum sekali. Berkatalah Joyo Astomo, Wahai Seto Wijoyo, sungguh dekat engkau dengan Sang Hyang Widhi hingga doamu terkabul. Sesaat kemudian terdengarlah suara ghoib yang dirasakan oleh keduanya. Wahai Seto Wijoyo engkau telah berhasil dalam menjalani semua ini, sekarang namamu bukanlah Seto Wijoyo melainkan Mojolangu, bergetarlah tanah yang diduduki keduanya dan suara itu akhirnya hilang. Berkatalah Seto Wijoyo kepada Joyo, wahai Joyo aku akan menebang pohon ini sebanyak empat dan tujuh batang lagi karena kamu sudah menebang satu maka semuanya menjadi lima dan tujuh. Bila dijumlah menjadi dua belas batang. Kenapa lima dan tujuh? Lima melambangkan pasaran jawa dan tujuh melambangkan hari masehi. Semua hari itu berdampingan bukan? Karena lima jodohnya tujuh maka tempat ini bila sudah ada ramainya zaman kuberi nama Mojopitu, dalam arti Jawa (limo jodone pitu). Dan sesuai dengan bau yang pertama dulu yang langu yang kurang enak maka nanti bila ada orang yang berwatak berperangai buruk maka akan keluar dari desa ini karena tempat ini tidaklah cocok dengan bau langu lagi lebih cocok dengan bau harum dan wangi tentunya, semuanya atas ridlo Alloh SWT. Bertanyalah Joyo dengan Mojolangu, Wahai Mojolangu siapakah engkau ini yang sebenarnya? Baiklah Joyo aku akan bercerita singkat siapa aku ini. Aku adalah anak dari Romo Wijoyo, dulu aku memeluk agama Hindu setelah agama Islam masuk ke Nusantara ini aku berlatih keyakinan ke Islam, di Islam aku banyak menemukan apa arti hidup ini. Islam bagiku adalah agama yang sempurna.
Aku adalah salah satu murid dari Sunan Kalijogo. Beliaulah yang mengislamkan aku. Orang berkenan memanggilku Kyai Seto Wijoyo karena sekarang namaku Mojolangu, aku rela dan ridlo namaku menjadi Kyai Mojolangu. Dan kelak nanti, bila ada ramainya zaman nama itu akan terpatri abadi oleh orang-orang yang mau menempati tempat ini. Aku berharap Mojopitu nanti tentram, aman, adil, makmur, kertoraharjo, lohjinawi. Akhirnya Joyo Astomo berpamitan untuk meneruskan pengembaraanya sambil berkata hai Kyai Mojolangu kelak nanti aku akan kesini lagi teruskanlah engkau menebang pohon-pohon ini sampai selesai ya Joyo jawabKyai Mojolangu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun Akhirnya Kyai Mojolangu meninggal dunia dan dimakamkan di Desa Mojopitu. Ia sangatlah dikenang oleh masyarakat sebagai seorang pahlawan karena telah membuat cikal bakal Desa Mojopitu.
Demikianlah kurang lebih cerita asal usul / sejarah Desa Mojopitu dan karena perkembangan zaman, Desa Mojopitu terbagi menjadi dua Dukuh yaitu:
- Dukuh Krajan berbatasan dengan Desa Karangan sampai pertigaan jalan arah Desa Bedikulon
- Dukuh Kori berbatasan dengan Dukuh Krajan keselatan sampai perbatasan Desa Crabak dan Desa Gundik.
Adapun para pejabat Bekel atau Kepala Desa yang pernah memerintah Desa Mojopitu semenjak berdiri adalah sebagai berikut :
| NO | NAMA | MASA JABATAN TH…...s/d…….TH | KETERANGAN |
| 1 | GETER | ……..s/d …… | Seumur hidup |
| 2 | SUROREDJO | …… s/d …… | Seumur hidup |
| 3 | MARMIN | 1938 s/d 1947 | 9 tahun |
| 4 | DJASWADI | 1947 s/d 1987 | 40 tahun |
| 5 | TOIMIN | 1987 s/d 1987 | Tiga bulan Pj |
| 6 | EDHI JUWITO | 1987 s/d 1997 | 10 tahun (Periode I) |
| 7 | EDHI JUWITO | 1998 s/d 2006 | 8 tahun (Periode II) |
| 8 | WAGIMAN | 2006 s/d 2007 | Satu tahun Pj |
| 9 | DIDIK SETIAWAN | 2007 s/d 2013 | 6 tahun (Periode I) |
| 10 | DIDIK SETIAWAN | 2013 s/d 2019 | 6 tahun (Periode II) |
| 11 | DIDIK SETIAWAN | 2019 s/d 2027 | 8 tahun (Periode III) |